Diarsipkan di bawah: SMS sederhana
Kemarin saya diundang berbicara di Lemhanas dalam sessi bersama Dewi Fortuna Anwar dan Fadel Muhammad Gubernur Gorontalo. Tema yang diangkat adalah effektivisasi otonomi daerah untuk meningkatkan ketahanan nasional.
Sudah pasti ini bukan bidang saya. Undangan ini termasuk ‘tersesat’. Dewi Fortuna dengan sangat artikulatif dan ilmiah mengemukakan pemikiran-pemikirannya, dialektis makro dan mikro, sangat penuh disiplin karena dia berasal dari habitat BJ Habibie. Fadel bercerita tentang pokok pengalamannya 6 tahun jadi Gubernur dalam hal yang terkait dengan tema. Paparannya sangat nyata, sejumlah rekomendasi ia kemukakan tidak berasal dari pemikiran tetapi dari pengalaman nyata.
Sejak awal mendapat undangan saya sudah mengalami kebingungan. Sudah beberapa tahun ini saya berkeliling ke daerah-daerah dan umumnya diundang oleh Pemda Propinsi, Kotamadya atau Kabupaten, sendirian atau bersama KiaiKanjeng, sehingga nuansa dan problematika otonomi daerah mungkin serba sedikit bersentuhan dengan perjalanan saya. Ramadlan yll saya berjumpa dengan ribuan rakyat Gorontalo pecinta ‘Habib’ Fadel Muhammad yang pada pemilihan Gubernur kali kedua 83% memilih Fadel. Dua malam yll bersama KiaiKanjeng kami bercengkerama dengan 18.000an orang di alun-alun Kraksan Probolinggo, di tengah situasi menjelang Pilkada Kabupaten.
Sejauh kami berkeliling daerah hampir tak pernah kami tidak mewawancarai para Kepala Daerah, secara audio visual, tentang apa saja yang mereka lakukan bagi pembangunan daerahnya dan penyejahteraan rakyatnya. Dokumentasi itu kami simpan untuk pembelajaran sendiri, sesekali kami paparkan kepada Jamaah Maiyah di kenduri Cinta, Padangbulan, Bangbang Wetan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat dan Obor Ilahi. Andai kami punya teve atau koran, tentu kami akan memuatnya. Apalagi wawancara sangat lengkap, metoda penggalian faktanya komprehensif, bahkan didahului dengan semacam pra-riset atau identifikasi masalah, sehingga setiap pertanyaan yang kami ajukan langsung analitik dan penetratif terhadap hal-hal aktual yang sedang dikerjakan oleh para Kepala Daerah.
Ada sejumlah hasil pemotretan dari wawancara-wawancara itu tentang berbagai jenis watak Kepala Daerah, metoda pembangunannya, jenis pengelolaannya terhadap kekuasaan yang digenggamnya, psikologi dan budayanya, dan macam-macam lagi. Ditambah sisi-sisi kenyataan lain dari setiap daerah umpamanya yang berkaitan dengan tugas Kepolisian, Militer, budaya lokalnya, pemetaan perekonomiannya, dst.
Akan tetapi semua itu tidak cukup untuk membuat saya merasa cukup untuk melakukan presentasi dalam diskusi Lemhanas itu. Aslinya, terlalu banyak masalah di negeri ini. Jenis komplikasi masalah-masalahnya juga tak terkirakan dan gaib jika dilihat dari perspektif ilmu sosial linier. Ketika masalah-masalah yang tak terhingga itu berparade di depan mata secara eskalatif dan akumulatif, bahkan mengguyur otak bagaikan hujan multi-sampah menenggelamkan kepala kita – sesungguhnya sangat sukar ditemukan jawaban-jawaban ilmiah, jawaban sistem, jawaban struktur, jawaban moral, jawaban mistik atau jawaban apapun.
Diskusi di Lemhanas itu menyimpulkan bahwa Otda itu “point of no return”, kayak pesawat sudah tancap untuk take of, kalau direm akan menerjang kampung penduduk di depan atau terjungkal oleh dirinya sendiri. Maka kalau memang harus ada jawaban, yang paling mungkin adalah jawaban psikologis. Maka di awal presentasi saya mengatakan: “Kalau saya memandang wajah Anda semua, maka saya menyimpulkan bahwa Indonesia ini tak punya masalah. Jadi saya berdiri di sini tidak menyiapkan pemikiran apa-apa, apalagi yang sifatnya pencerahan. Saya berdiri di sini hanya membawa kegembiraan. Yakni kegembiraan bahwa Indonesia tak ada masalah”.
Sebelum itu di tengah kebingungan saya menyiapkan untuk forum Lemhanas beberapa tumpuk berkas, dokumen dan surat-menyurat. Saya pilih misalnya berkas dibakarnya Pasar Turi Surabaya. Pasukan Maiyah di lapangan melaporkan: Pasar turi terbakar sebanya 4 kali:
- Thn 1969
- Thn 1978
- Tanggal 26 juli 2007
- Tanggal 9 september 2007 (ke 3 dan ke 4, oleh KAPOLDA JATIM dinyatakan DI BAKAR)
KERUGIAN MATERI:
- Dari total 2.350 stand yg terbakar, kerugian barang dagangan diperkirakan lebih kurang 1,7 trilyun.
- Dari total stand yg tdk terbakar, di lokasi tahap II tdk dpt berjualan kembali hingga saat ini.
- Dalam kondisi normal omzet perputaran transaksi perdagangan di pasar turi mencapai lebih kurang 30 milyar per hari. Sedangkan dalam kondisi pemulihan yg sangat lamban seperti saat ini dan telah berlangsung selama 3 bulan, dapat dibayangkan berapa rupiah yg hilang.
Pasar Turi ini memuat tema kapitalisme liberal, feodalisme Kerajaan yang berbaju Republik, otoritarianisme Kepala Daerah yang berkostum demokrasi, pernikahan liberal antara investor dengan kekuasaan. Para pedagang yang kehilangan pasarnya itu, sebagaimana 47.000 korban lumpur, datang ke saya memberi mandat legal formal untuk mengupayakan penyelesaian masalah. Saat-saat ini sejumlah hal sedang saya coba penetrasikan sampai ke tingkat Mendagri.
Akan tetapi saya merasa beruntung karena saya membatalkan untuk membawa data-data tentang itu, ketika kemudian Fadel Muhammad menyatakan bahwa “Selama 6 tahun saya menjadi Gubernur, belum pernah surat saya kepada Mendagri mendapatkan balasan”. Apalagi surat dari pedagang Pasar Turi. Jadi alhamdulillah saya tidak jadi membawa berkas-berkas itu.
Di luar lumpur dan Pasar Turi, sebenarnya saya siapkan juga sejumlah berkas lain. Misalnya tentang 325 HA tanah penduduk di pojok Surabaya yang 23 tahun dipakai oleh Angkatan Laut dan belum dibayar sampai hari ini, meskipun mereka sudah menang di pengadilan dan sudah memegang surat janji KSAL untuk membayar. Ada juga berkas contoh Surat Transaksi antara Kandidat Cagub Cawal atau Cabub dengan sponsor. Atau Surat Pernyataan Kesetiaan kepada “operator” politik yang bekerja di pusat jaringan yakni Jakarta.
Tetapi sekali lagi saya bersyukur saya membatalkan itu semua dan diberi anugerah Tuhan berupa pernyataan bahwa Indonesia tidak punya masalah. Masalah itu menjadi atau adalah masalah jika terdapat pada orang atau pihak yang bermasalah dengan adanya masalah. Sedangkan rakyat Indonesia sudah sangat dan terlalu sering ditimpa masalah, sehingga sangat terbiasa dengan masalah, dan bahkan mampu hidup seolah-olah tak bermasalah di tengah sangat banyak masalah. Lebih dari itu sejumlah segmen rakyat sudah memiliki kesanggupan untuk menikmati masalah.
by : cak nun 2008
Semoga semua refleksi caknun ini bisa mengurangi keputusasaan generasi putih bangsa…
Diarsipkan di bawah: massage qolbu | Tag: fenomena hidayah, nafsu dan ketulian, sengsara, kebingungan dan putus asa, kekuatan hati, manusia poligami
| Ditulis Oleh Emha Ainun Nadjib | |
| Thursday, 13 December 2007 | |
| var sburl5806 = window.location.href; var sbtitle5806 = document.title;var sbtitle5806=encodeURIComponent(“Joko Penthil dan Manusia Poligami”); var sburl5806=decodeURI(“http://padhangmbulan.com/content/view/73/lang,id/”); sburl5806=sburl5806.replace(/amp;/g, “”);sburl5806=encodeURIComponent(sburl5806);
Setiap shalat Jumat insyaallah anda selalu mendengar Khatib mengucapkan statemen Allah: Barang siapa siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tak ada yang sanggup memberinya petunjuk. Ada perilaku, akhlak dan sikap hidup seseorang yang Allah menganggap bahwa orang itu layak dianugerahi hidayah. Sebaliknya ada manusia dengan cara berpikir, pola sikap dan langkah perilaku yang membuat Allah menyesatkannya. Yang disesatkan oleh Allah mungkin bias tak hanya seseorang, bias juga sebuah keluarga, suatu masyarakat atau bangsa, karena masing-masing berada di dalam lingkar logika tanggung jawab tertentu atas kehidupan mereka, individu atau kolektif. Jadi ada fenomena hidayah: Allah memberi petunjuk, menyikapi baik-baik terhadap makhluk-Nya. Saya mengkategorikan ini opsi pertama. Ada juga fenomena idzlal: Allah menyesatkan pihak yang menurut Allah pantasnya memang hanya disesatkan. Khotamallohu ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim ghisyawah, walahum ‘adzabun ‘adhim. Allah resmi menutup hati mereka, menyumpal pendengaran mereka, sehingga yang mereka peroleh sesudah peresmian itu adalah siksaan, stress, nafsu yang tak terkendali namun tak kesampaian. Mulutnya teriak-teriak, dan kalau mulutnya lelah maka hatinya yang terus teriak-teriak dalam keadaan bangun maupun tidur. Ia melakukan apapun saja yang dianggap akan memuaskan hatinya, namun tak pernah tercapai. Sebab utamanya adalah karena ia tidak memiliki pendengaran atas apapun saja kecuali atas suara nafsu dan egoismenya sendiri. Kalau anda dan saya adalah orang dengan kategori ini, maka siapapun tak bisa menolong kita. Tetapi kalau ada orang lain yang ikut kita, turut menjadi asap dan terjebak oleh nafsu dan ketulian kita, maka semoga ada orang yang dikehendaki Allah memisahkan orang yang terjebak itu dari ketulian hidup kita. Orang itu tak perlu masuk neraka di akhierat bersama kita. Orang itu juga tak perlu menjadi lebih lama sengsara, kebingungan dan putus asa gara-gara mempercayai kita. Yang jarang dipikir orang adalah bahwa orang yang ditutup hatinya oleh Allah ini rata-rata tidak mengerti bahwa hatinya ditutup oleh Allah. Ia bahkan merasa dirinyalah yang terbaik dan paling benar. Ia tidak mampu menemukan kebenaran di luar dirinya. Ia hanya mampu mencari kesalahan di luar dirinya. Artinya ia tidak memiliki kesanggupan sedikitpun untuk menemukan kesalahan di dalam dirinya. Kemampuan mentalnya hanya sebatas kenyataan subyektif bahwa dirinya yang benar dan lainnya harus salah. Ia tidak punya kekuatan hati untuk mampu menyebut ada yang benar di luar dirinya. Maka karena kelemahan hati itu, tak ada jalan lain kecuali memfitnah, terus jadi tambah sengsara, terus memfitnah lagi, terus jadi semakin sengsara, terus memfitnah lagi sampai akhirnya kesepian dan mati ngenes. Disesatkan oleh Allah, ditulikan telinganya. Jangankan bersyukur: mendengar saja tak mampu. Fenomena idzlal, yang memproduk sekian manusia-manusia mudzlal, saya sebut opsi ketiga. Sebab opsi kedua adalah di antara hidayah dengan idzlal, yakni fenomena istidraj. Bahasa Jombangnya digunggung. Bahasa Jawa umum dibombong. Fi qulubihim maradlun fazadahumullahu maradla. Orang yang hobinya memelihara penyakit di dalam hati dan batok kepalanya dan Allah menambahi penyakitnya. Tentu ini tak hanya berlangsung dalam kehidupan invidu dan pergaulan sehari-hari. Fenomena ini akan anda jumpai potensialitasnya dalam berbagai kasus, konteks dan skala. Bisa dalam hal kepemimpinan nasional, bisa dalam urusan-urusan kasuistik pada level yang lebih kecil. Kalau anda punya masalah, kemudian yang menemani anda adalah jenis manusia dengan opsi idzlal atau istidraj, maka sangat cepat anda menjadi sama dengan dia. Kemudian orang lain bisa berpikir untuk menerapkan juga kepada anda apa yang Allah lakukan: orang lain itu juga bisa nggunggung atau mbombong anda atau malah menyesatkan anda sekalian. Karena anda telah menjadi manusia poligami: istri pertama anda adalah kesengsaraan, istri kedua namanya kebingungan, istri ketiga namanya keputusasaan. Istri pertama, Bu Sengsarawati, alias kesengsaraan, hanya bisa diproduksi oleh penanganan masalah yang keliru, managemen yang kontra-produktif, serta langkah tanpa strategi dan taktik alias tanpa siyasah wa kaifiyah. Istri kedua, Bu Roro Bingung, pasti merupakan output dari tidak lengkapnya informasi, dari pengetahuan yang tidak memadai, dari ketidaktahuan alias kebodohan, yang terpelihara dengan subur karena telinga tuli dan hati hanya berisi nafsu. Istri keempat, keputusasaan, bahasa Qurannya Taiasu, jadi namakan saja Bu Taiasu, adalah akumulasi dari dialektika penghancuran: tidak mendengar maka tidak tahu, tidak tahu maka tidak bisa, tidak bisa maka tidak kelakon, tidak kelakon maka marah, karena marah maka penuh nafsu, karena penuh nafsu maka tak bisa mendengar, tidak mendengar maka tidak tahu…dan teruskan mubeng lagu kanak-kanak di dusun-susun: Joko Penthil thela-thelo ayo lo lopis mambu ayo mbu mbukak tenong ayo nong nongko sabrang ayo brang brangkat kaji ayo ji jimat roo ayo jo joko penthiiiiiil thela-thelo…. Monggo kalau ada yang ingin dan bertahan menjadi Joko Penthil. Selamat thela-thelo. Mudah-mudahan Allah tidak menganugerahkan opsi keempat: fenomena tark. Allah meninggalkan kita. Kita kabur kanginan. Mending Allah kasih opsi kelima: adzab yang berupa pemusnahan sekalian.*** |
Diarsipkan di bawah: massage qolbu | Tag: bakrie, CONGRATULATION buat BAKRIE GROUP, darah, hutan, mencuri, pemakan hutan kota, rakyat, SEMOGA PRESIDEN KITA SEMAKIN TAK BERDAYA........., tamak, vampire
Aktivis lingkungan yang tergabung dalam masyarakat peduli lingkungan Malang Raya berunjuk rasa. Mereka memprotes pembangunan perumahan mewah yang dibangun oleh PT Bakrieland Development Tbk dilahan hutan kota.
Alasannya, lahan seluas 28 hektar itu ditetapkan sebagai hutan kota dan lahan terbuka hijau (RTH) dalam peraturan daerah nomor 7 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Malang. Mereka membentangkan poster dan membagikan selebaran tentang
peryataan sikapnya kepada para pengguna jalan agar sadar tentang arti pentingnya RTH.
“Malang semakin panas, Malang berada di dataran tinggi tapi anehnya sering dilanda banjir. Semua itu disebabkan rusaknya RTH yang tersisa,” kata koordinator aksi Purnawan Dwikora Negara saat berorasi di Simpang Empat Jalan Veteran Kota Malang, Kamis (6/3/2008)
Mereka mendesak pemerintah untuk membatalkan izin pembangunan perumahan mewah yang dikerjakan oleh PT Bakrieland Development Tbk.
Kegiatan yang dilakukan pengembang, kata Purnawan, adalah kegiatan elegal yang dapat dikategorikan sebagai pelaku kejahatan lingkungan. Sehingga, bila ada pejabat menerbitkan izin tidak sesuai RTRW diancam hukuman pidana 5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.
Rencananya, bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) itu akan didirikan 200 unit perumahan mewah, masing-masing seharga Rp 1 miliar serta dilengkapi pusat perbelanjaan dan taman rekreasi.
Mereka menyayangkan kebijakan pemerintah Kota Malang yang selalu merusak lingkungan seperti pembangunan Malang Town Square (Matos), Malang Olimpic Garden (MOG), perumahan dan Kantor Kelurahan Oro-Oro Dowo yang semuanya dibangun di kawasan RTH. “Bila tahun 2000 luas RTH hanya 2,8 persen, kini mungkin hanya tersisa 1,8 persen saja,” tuturnya.
Pengelolaan lahan bekas kampus APP itu selama 17 tahun terakhir mendapat pertentangan dari masyarakat Malang. Mereka ingin tetap mempertahankan lahan bekas kampus APP sebagai lokasi penelitian dan RTH. “Telah beberapa kali aktivis lingkungan mengalami tindakan kekerasan dan premanisme,” pungkas Purnawan.
Itulah kabar dari malang, tentang semakin gagahnya sang penikmat darah rakyat kecil.
sebuah perusahaan paling kuat serta orang paling perkasa di negeri ini hingga mengalahkan presiden yang kebetulan presiden kita adalah ayam kate.
Kembali membentangkan genggam ketamakannya, setelah mencoba mencuri kekayaan negara di porong dengan berjuta alasan, padahal dalam UUD 45 jelas tertera bahwa kekayaan alam, tambang serta hasil bumi di atur dan di olah oleh negara demi kepentingan rakyatnya.
Tetapi pertanyaanya adalah , apakah pemerintah kita yang bermoral bobrok atau terlalu kuatnya penjahat dan perampok di negeri ini, hingga… semakin hari, semakin merajalela menelan nikmat serta syurga indonesia tanpa ada yang berani membatasi bahkan menghalangi.
Apakah pangeran BAKRIE benar-benar membangun atau menghancurkan bangsa ini…
Mudah-mudahan semua keperkasaan sang perompak serta kekerdilan pemimpin negeri ini tak membuat apatis serta pesimis generasi hijau indonesia….
CONGRATULATION buat BAKRIE GROUP, SEMOGA PRESIDEN KITA SEMAKIN TAK BERDAYA………
